You are currently viewing 7 Batik Pengantin Untuk Pernikahan Yang Penuh Makna

7 Batik Pengantin Untuk Pernikahan Yang Penuh Makna

Siapapun pasti setuju pernikahan adalah momen yang paling terkenang seumur hidup. Maka tak salah jika calon mempelai sangat antusias menyiapkan seluruh konsep pernikahan. Mulai dari ornamen venue tak terkecuali hingga busana pengantin. Nah, bagi pernikahan adat Jawa, tak lengkap rasanya bila tak mengenakan batik pengantin.

Tentu bukan sembarang batik yang digunakan saat upacara pernikahan. Umumnya hanya batik-batik bercorak klasik saja yang biasa menemani suasana hangat sekaligus khidmat ini.

Selain karena modelnya kental dengan nuansa tradisional, filosofi masing-masing motif juga sangat dalam, lho. Seakan pemakaian batik mengisyaratkan doa dan harapan untuk kehidupan sepasang pengantin kedepannya.

Atau mungkin anda masih mencari tahu batik dengan makna yang tepat? Untuk itu jangan lewatkan ulasan kali ini.

Sebelumnya anda perlu lihat koleksi batik dari kami yang cocok untuk pesta pernikahan hanya di www.rumahbatikbedjo.com

Nah, sekarang kita akan bahas detail arti setiap motif batik pengantin. Penasaran bukan?

Batik Sido Luhur

Batik Sido Luhur jadi batik pertama yang tak asing lagi dalam gelaran pernikahan. Saking seringnya, bahkan anda bisa lebih sering mendapati kain ini pada banyak pernikahan, terutama yang betul-betul berkonsep Jawa klasik. Tak heran jadinya karena batik ini memang bergaya keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Pola motifnya sendiri khas sekali dengan bentuk belah ketupat yang seragam. Hanya saja ragam hias setiap bloknya tidak selalu sama. Seperti adanya gambaran pohon hayat, burung, garuda, dan meru pada setiap bagian.

Dari gabungan motif ini, filosofinya pun tak sembarangan. Layaknya nama, kain mengandung arti keluhuran berpikir dan bertindak. Harapan untuk pengantin juga demikian. Ada nilai kebaikan yang terserap dalam memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya senantiasa jujur, bertanggung jawab, dan berucap baik ketika menempuh kehidupan barunya nanti bersama pasangan.

Meskipun makna batik hanya condong bagi kedua mempelai, aplikasi kain bisa bermacam-macam. Mulai dari blangkon, hingga jarit bawahan orang tua mempelai sekalipun.

Batik Truntum

Konon katanya, kain batik truntum tercipta dari tangan permaisuri Paku Buwono III yang diabaikan suami. Raja membagi hati dengan selir barunya sehingga permaisuri merasa sedih dan memilih merenungi langit. Dari sinilah inspirasi motif truntum yang nampak seperti bintang tergambar cantik hingga saat ini.

Kisah sedih penciptanya boleh saja jadi sumbernya. Tetapi bukan berarti makna yang terbawa juga demikian. Justru sebaliknya, truntum adalah simbol yang tepat bagi ungkapan kasih sayang dan cinta pasangan sejoli. Karena dengan lahirnya batik ini, bahkan cinta Raja Paku Buwono III untuk permaisuri bersemi kembali.

Dalam pernikahan, truntum tentu lebih sering menjadi busana bawahan orang tua, mempelai pria dan wanita. Paduan warna cokelat, hitam, dan sedikit sentuhan putih membuat tampilan beskap dan kebaya semakin menawan.

Batik Sido Mukti

Ini dia salah satu batik pengantin yang sering melengkapi meriahnya pernikahan. Selain tampilan klasik yang memikat, batik asli dari daerah Surakarta ini juga tak kalah unggul dari sisi filosofis. Yaitu terkabul segala keinginan dan kebahagiaan pasangan mempelai, sehingga tidak merasa kekurangan dan selalu disegani.

Makna seperti ini tergambar dari ragam hiasnya yang banyak menggunakan ornamen sayap kupu-kupu, meru, dan kembang. Kupu-kupu mewakili arti keinginan yang tinggi, meru atau gunung menjelaskan keagungan dan kemakmuran. Serta kembang melambangkan keindahan yang tetap teguh dan kuat.

Hiasan lain yang membuat batik ini terlihat sangat khas terletak pada guratan Sawut berupa garis lembut di antara ornamen. Lalu Ukel yang melingkar kecil pada seluruh permukaan kain, Cecekan dan Cecek atau titikan.

Semakin otentik dengan gabungan warna soga dengan latar putih buram yang membuat busana pengantin tambah elegan.

Motif Grompol

Mengamati motifnya, mungkin akan terasa cukup familiar karena bentuknya yang menyerupai bentuk ceplok. Walau begitu, bukan berarti motifnya boleh dipandang sebelah mata. Buktinya batik ini menjadi pilihan pas untuk busana batik pengantin, terutama bagi orang tua dalam acara siraman.

Dengan model motifnya yang seakan mengerumun, makna dibaliknya juga serupa. Batik grompol seakan menjadi doa dan harapan orang tua bagi kehidupan pernikahan anak yang senantiasa menyatu dengan masa depan cerah. Murah rezeki, penuh dengan kedamaian dan dikaruniai keturunan yang berbakti.

Meski bercorak geometris, batik grompol tidak akan tampak terlalu sederhana dalam rangkaian prosesi pernikahan. Berkat warna cokelat, jingga tua dan warna klasik lainnya justru membuat batik grompol terkesan mewah. Cocok sekali dipadu dengan kebaya atau beskap.

Motif Cakar Ayam

Selain motif grompol, motif yang satu ini juga mengaplikasikan corak geometris. Bedanya, motif ini lebih menonjolkan guratan garis putus-putus dan titik-titik. Jika dilihat secara menyeluruh, barulah nampak pola menyerupai cakar ayam.

Kelihatannya kurang apik terdengar, bukan? Akan tetapi jangan salah, dalam gambaran batik, cakar ayam menjadi lambang harapan masa depan pasangan. Khususnya ayam direpresentasikan sebagai semangat pasangan untuk mencari nafkah dan mengarungi hidup. Tercurah banyak rezeki, memperoleh anak yang didamba, dan kesejahteraan hidup.

Khas batik pengantin, kain ini pun juga berlatar warna gelap dengan dominasi guratan putih untuk seluruh ragam hiasnya. Sehingga sangat sesuai dengan atasan kebaya dan beskap seperti putih atau putih gading.

Motif Wahyu Tumurun

Batik pengantin dengan motif wahyu tumurun lebih banyak menjadi pilihan para mempelai adat Jawa khususnya Yogyakarta. Tentu saja karena batik ini tercipta asli dari kota tersebut. Namun, salah satu yang menjadi alasan utama terletak pada keindahan dan kompleksitas motifnya.

Anda bisa temukan hiasan berupa mahkota besar berisi ornamen bunga lengkap dengan sepasang ayam atau burung merak berhadapan. Biasanya akan tergambar juga pola tumbuhan seperti dedaunan dan rantung yang melintang. Serta motif kembang yang tersebar pada sisi kosong motif kain atau ukel.

Dengan demikian, maknanya pun juga lengkap dan sangat dalam. Mahkota mewakili nilai kemuliaan dan tercapainya keberhasilan. Sementara gabungannya bersama motif burung mencitrakan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan selalu bahagia. Inilah mengapa motif wahyu tumurun cukup diminati menjadi busana pernikahan.

Batik Sido Asih

Setelah motif Sido Luhur dan Sido Mukti, kini giliran Sido Asih yang juga siap memberikan kesan khidmat pada pernikahan anda. Masih dengan corak khas batik keraton yang klasik, motif ini lebih banyak memberikan citra warna yang cerah. Memiliki latar dasar warna putih dan warna cokelat pada seluruh ragam hiasnya.

Untuk motifnya sendiri, batik ini memusatkan hiasan pada sepasang sayap besar. Gambaran ini menyiratkan arti kedua insan telah menemukan pasangan yang tepat sehingga dipersatukan dalam satu ikatan pernikahan.

Filosofi yang semakin lengkap dengan makna dari Sido Asih yang mengharapkan kehidupan pernikahan pengantin selalu diliputi rasa saling menyayangi. Saling mengasihi satu sama lain, tentram dan bahagia baik dalam kehidupan dunia maupun hingga akhirat.

Pemilihan motif batik pengantin biasanya tergantung pada adat apa pernikahan akan berlangsung. Semata-mata agar setiap komponennya selaras supaya suasananya semakin terasa.

Akan tetapi, hal ini bukan penghalang bagi anda yang senang memadukan berbagai elemen unik. Bisa jadi hasilnya justru lebih memukau. Kira-kira sudah ada rencana memilih batik untuk pernikahan nanti belum?

Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]

Tinggalkan Balasan