You are currently viewing 5 Pewarna Batik Sintetis dan Kelemahannya

5 Pewarna Batik Sintetis dan Kelemahannya

Pewarna Batik Sintetis

Selain faktor motif, salah satu alasan Kawan Batik memilih batik favorit tentu tak lepas dari kombinasi warnanya yang memikat. Mulai dari warna-warna klasik khas corak tradisional, sampai variasi yang kaya ala corak peranakan dan modern. Nah warna yang melekat pada kain batik inilah yang bersumber dari bahan pewarna, termasuk pewarna batik sintetis.

Sedikit berbeda dari tekstil lainnya, batik punya jenis zat pewarna yang khusus dan cukup umum digunakan oleh para perajin batik. Bagi anda yang penasaran apa saja bahan utama untuk mempercantik tampilan motif, berikut ini Batik Bedjo bagikan informasinya!

1. Naphtol

Pewarna Batik Sintetis

Zat naphtol menjadi satu dari sekian pewarna batik sintetis yang biasa perajin gunakan. Jenis ini sangat membantu proses pewarnaan kain secara lebih cepat berkat sifatnya yang mudah menempel. Karakter tone-nya pun cukup kuat sehingga warna keluar lebih cemerlang.

Sebelum berbentuk cairan, napthol sebetulnya merupakan zat yang tergolong sulit larut bersama air. Maka untuk melarutannya perlu rebusan air dengan bantuan kostik.

Batik yang menggunakan napthol akan melewati dua tahap pencelupan. Pertama adalah cairan berwarna. Kemudian tahap selanjutnya perajin akan mencelup ke dalam garam diazonium. Step ini berguna untuk membangkitkan warna agar lebih nyala dan batik pun sangat menarik.

2. Rhemazol

Pewarna Batik Sintetis

Bagi anda yang mencari batik dengan warna tahan lama dan tidak mudah luntur, kemungkinan berbahan pewarna Remazol yang anda cari. Mengapa?

Kandungan dalam pewarna yang satu ini punya sifat cepat bereaksi dan mengikat pada serat didekatnya. Karena itulah warna berbahan Remazol akan terserap sempurna pada kain seolah warna memang murni dari kain.

Selain adaptif sempurna pada kain, Remazol tergolong zat yang mudah dilarutkan dalam air saat proses pembuatan batik. Dengan begitu tidak lagi perlu bantuan zat kimia lainnya yang mungkin memberikan efek pada kain.

Zat ini juga tak kalah fleksibel dari naphtol, yang pas untuk teknik pencelupan ataupun coletan. Kualitas hasilnya pun tentu tidak akan jauh berbeda menurut karakter keluarannya.

3. Indigosol

Pewarna Batik Sintetis

Tak hanya naphtol yang mampu digunakan saat proses pencelupan, zat indigosol juga cocok menjadi bahan pewarna celup. Bahkan juga biasa perajin gunakan pada teknik colet alias melukis dengan kuas.

Sama seperti larutan naphtol, pewarna ini juga lengkap dengan dua macam larutan. Larutan pertama merupakan cairan yang memberi warna dan larutan kedua adalah cairan yang akan mengunci warna batik.

Larutan pengunci ini umumnya hasil dari campuran asam sulfat atau natrium nitrit. Sehingga setelah kain batik menyerap cairan pertama, warna akan muncul sekaligus terjaga dari kepudaran setelah melewati tahap kedua.

Indigosol sendiri cenderung memberikan warna-warna pastel yang cerah dan tidak begitu mencolok. Cocok sekali bagi batik-batik bergaya modern.

4. Rapid

Pewarna Batik Sintetis

Tidak banyak sumber yang menyebutkan zat rapid sebagai salah satu pewarna batik sintetis. Padahal sebetulnya jenis ini juga cukup sering digunakan untuk memberikan warna batik yang maksimal.

Rapid sebetulnya bukanlah zat murni seperti bahan-bahan sebelumnya. Bisa dibilang rapid semacam zat turunan dari naphtol. Lebih detailnya ini merupakan campuran antara naphtol dengan garam diazodium yang berperan sebagai larutan warna.

Pada tahap tersebut, kain yang dicelupkan belum berubah warna. Barulah pada fase fiksasi atau penguncian, motif batik akan memunculkan warna yang khas. Fase ini perajin akan menggunakan cairan asam sulfat atau lebih simple menggunakan cuka.

Akan tetapi, apabila tak ingin mencelup batik yang kedua kalinya, maka cukup angin-anginkan batik hingga warnanya keluar sempurna. Ingat, pewarna ini hanya berlaku bagi teknik coletan, ya.

5. Direk

Dari sekian pewarna batik sintetis yang ada, bahan direk termasuk yang paling jarang perajin gunakan. Meski demikian, jenis pewarna ini menawarkan cukup banyak pilihan warna. Mulai dari merah, kuning, biru, cokelat, hitam, dan ungu.

Untuk mengaplikasikannya, pencelupan kain setelah cairan inti masih memerlukan tahap fiksasi untuk menguatkan nyala warna. Lalu setelah kain batik siap dengan motifnya yang berwarna, kain hanya perlu diangin-anginkan.

Bagi anda yang tertarik menggunakan batik jenis ini, akan lebih baik untuk mempersiapkan perawatan ekstra. Menurut sumber, pewarna yang menempel cukup rentan terhadap kelunturan dan sinar matahari. Sehingga penting sekali untuk menjaga ketahanan batik agar awet lebih lama. 

Beberapa Kelemahan Pewarna Batik Sintetis

Sejauh ini pewarna batik sintetis memang menawarkan kualitas yang mumpuni bagi keindahan motif batik. Akan tetapi, tentu saja bahan-bahan ini tetap menyimpan kelemahan yang mungkin berdampak kurang baik bagi anda. Untuk itu sebelum yakin membeli batik dengan dasar warna buatan, pastikan anda memahami bagaimana kelemahannya. Informasinya telah kami rangkum dalam beberapa poin di bawah ini.

1. Tidak Ramah Lingkungan

Setelah memahami kelima bahan pewarna di atas, tentu saja seluruhnya terbuat dari senyawa kimia buatan. Senyawa-senyawa inilah yang apabila terlarut dalam air sulit terurai. Dengan begitu air buangan proses pembuatan batik pun akan tetap keruh dan kehilangan kadar oksigen.

Tak hanya sampai situ saja. Efek pelarutannya terus berkelanjutan mempengaruhi banyak ekosistem. Karena air larutan inilah yang selanjutnya mengubah kealamian air, tanah, bahkan hewan sekalipun.

Maka tak heran jika lingkungan di sekitar pusat produksi cenderung lebih rawan terpapar dampak buruknya. Seperti kualitas air yang cukup beracun hingga sumber makanan yang sudah berubah kandungan gizinya.

2. Berdampak Pada Kesehatan

Bisa dipastikan dari dampak yang muncul pada bagian sebelumnya akan muncul masalah-masalah kesehatan. Dan umumnya hal ini baru nampak dalam jangka panjang. Sehingga tidak dapat anda ketahui sesaat setelah menggunakan berbagai sumber yang tercemar.

Bukan cuma cukup berbahaya bagi masyarakat sekitar pusat produksi, anda pun boleh jadi akan mengalami hal tak jauh berbeda. Salah satunya kendala pernafasan yang mungkin anda alami ketika cukup sering menghirup lapisan kain batik pasca produksi.

Selain itu boleh jadi problem kesehatan lainnya timbul di sekitar kulit. Permasalahan ini sedikit banyak keluar dari senyawa kimia yang tak cocok dengan karakter kulit anda.

3. Kemungkinan Alergi Kulit

Senyawa kimia aktif yang terkandung dalam bahan pewarna umumnya memang tergolong aman bagi jenis kulit umum. Namun terkadang pewarna-pewarna ini juga bereaksi lain terhadap anda yang memiliki sensitivitas kulit tinggi.

Jika anda merupakan salah satunya, ada baiknya untuk menghindari membeli batik dengan pewarna sintetis. Hal ini tentu jauh lebih baik dibandingkan harus mengalami berbagai alergi, mulai dari kemerahan gatal, perih, hingga kulit terkelupas.

Sebagai gantinya, batik pewarna alami adalah alternatif jitu berkat bahan herbalnya yang minim menimbulkan efek samping. Meskipun anda jadi harus merogoh kocek sedikit lebih dalam, cobalah untuk pertimbangkan keamanan kulit yang lebih penting.

Kesimpulan

Itulah 5 jenis pewarna batik sintetis berikut dengan kelemahannya. Walau begitu, bukan berarti batik dengan pewarna buatan menjadi berbahaya. Khusus bagi anda yang akan memakai batik, cukup kenali lebih baik bagaimana jenis kulit anda agar tidak bereaksi berlebih.

Jangan lupa untuk lebih pertimbangkan juga kualitas bahan pakaian batik supaya terasa nyaman menemani beraktivitas. Dan untuk soal ini, koleksi Batik Bedjo bisa jadi solusi tepat yang anda cari karena hanya menggunakan komponen berkualitas.

Beragam pilihan terbaik sejenis kemeja, rok, celana, outer, gamis, hingga kain batik bisa langsung anda temukan hanya dalam sekali klik. Tak perlu lagi khawatir dengan kualitas batik yang akan anda dapatkan meski belanja secara online. Untuk anda, kualitas adalah yang nomor satu. Selamat berbelanja!